Kamis, 01 Oktober 2020

OSPEK Sebagai Ajang Kontestasi Organisasi mahasiswa Islam Ekstra Kampus Dalam Perebutan Kader



Pada bulan-bulan ini seluruh Universitas dan sekolah tinggi di Indonesia melakukan pengenalan budaya Akademik. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini mahasiswa baru dihadapkan dengan sistem  daring. Cara-cara Ospek daring sangat beragam, misalnya memberikan tugas membuat video dan lain sebagaianya, sehingga kreativitas mahasiswa baru lebih terasah. Namun, ternyata ada juga ospek daring yang melakukan pelatihan mental (perploncoan) menjadi viral di sosmed. Entah apa motif dibelakangnya, namun hal itu menjadi sangat aneh dan lucu ketika dilaksanakan secara daring. 

Masa seperti inilah yang digunakan oleh organisasi ekstra kampus untuk mencari generasi penerusnya (kader). Organisasi-organisasi besar seperti HMI dan PMII misalnya. Namun kontestasi tidak hanya dilakukan oleh dua organisasi besar ini, organisasi ekstra kampus seperti IMM, KAMMI juga ikut andil untuk berburu mahasiswa baru sebagai anggotanya. Berpuluh-puluh tahun budaya ini tidak lekang dimakan zaman, waktu inilah yang dirasa terbaik dan membuka peluang besar untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kader. 

Apakah hal itu wajar? Wajar saja dilakukan selama tidak melanggar etika-etika tertentu dan yang terpenting adalah tidak bertentangan dengan Pancasila. Soe Hok Gie, telah mengibaratkan kampus serupa dengan miniatur negara. Di mana sebuah negara mempunyai banyak elemen. Persoalan sosial, politik dan ekonomi sudah menjadi masalah klasik. Tidak berbeda jauh dengan negara, kampus juga mempunyai sistem pemerintahan di dalamnya. Sama halnya dengan negara, kampus memepunyai partai, serta komponen-komponen lain yang hampir sama dengan apa yang dimiliki oleh sebuah negara. 

Setiap organisasi, partai atau yang lainnya, pastilah mempunyai ideologi. Organisasi mahasiswa Islam pun demikian, walaupun mereka sama-sama beragama Islam. Namun, mereka memiliki kecenderungan dalam berbagai aspek. Sudah tidak asing lagi, Islam sudah terbagi-bagi dalam segi pemikiran dan gerakan. Ada Islam traditionalis, Islam modernis, Islam fundamentalis dan ada juga Islam kiri, seperti halnya Ali syari'ati dari Iran.

Lantas apa hubungannya semua itu dengan OSPEK yang terjadi di kampus?

Sebagai contoh  salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri yang ada di kota Salatiga, yang setiap tahunnya melaksanakan OSPEK atau disana lebih akrab dengan istilah PBAK. Sebagai masa  yang dinantikan. PBAK menjadi ajang untuk saling berkontestasi. Berebut posisi dalam kepanitian adalah salah satu cara agar mereka menjadi lebih mudah dalam menjaring dan mempengaruhi mahasiswa baru. Tim penyeleksi panitia PBAK adalah Dewan Mahasiswa  (DEMA) yang tentunya mereka adalah bagian dari organisasi ekstra kampus tertentu. 

PBAK tahun ini diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa (DEMA)  yang diawasi oleh Senat Mahasiswa (SEMA). Tentu mereka juga menjadi anggota disalah satu organisasi ekstra kampus. Mereka telah mempersiapkan kegiatan ini dengan sedemikian rupa, siang dan malam mereka bekerja supaya PBAK kali ini berjalan dengan lancar. Namun hal ini dipandang tidak sehat oleh organisasi ekstra kampus yang lain, seperti HMI KAMMI dan IMM. Karena menurut mereka PBAK tahun ini hanya menguntungkan salah satu pihak organisasi ekstra kampus, seperti PMII. Tetapi dikarenakan tahun ini dilaksanakan secara daring maka gerakan-gerakan penjaringan maba hanya lewat media sosial dan jaringan kerabat atau keluarga.

Kejadian yang melatar belakangi hal demikian yaitu terselenggaranya PEMIRA atau pemilihan umum raya mahasiswa yang terjadi setiap tahunnya. Organisasi ekstra kampus saling berlomba-lomba memenangkan PEMIRA. Sistem pada pemilihan yang digunakan tahun kemarin hampir sama dengan pemilu yang dilaksanakan di Indonesia. Yaitu menggunakan sistem Presidential Threshold . Banyak dari lini-lini organisasi mahasiswa intra kampus yang di isi oleh anggota dan kader PMII. Sedangkan organisasi ekstra kampus yang lain seperti HMI IMM dan KAMMI menjadi oposisi mereka lewat partai sayap kanan mereka yang ada di kampus. 

Dikarenakan kekalahannya dalam berkontestasi, organisasi-organisasi ekstra kampus seperti HMI, KAMMI dan IMM menjadi merasa minoritas dan sangat tertindas. Padahal mereka sendiri yang kurang bersungguh-sungguh dalam berkompetisi disaat Pemira berlangsung. Fakta di lapangan, partai yang dinaungi oleh HMI, KAMMI dan IMM masih banyak yang tidak lolos administrasi ketika di seleksi oleh KPU Mahasiswa. Seperti kurangnya kursi Senat Mahasiswa. Maka yang terjadi banyak kekosongan calon di tataran Dewan Mahasiswa atau BEM hingga HMPS dan hal itu membuat banyak calon yang melawan bumbung kosong. 

Karena kurangnya penguasan organisasi ekstra kampus yang lain seperti HMI, KAMMI dan IMM dalam lini-lini organisasi mahasiswa intra kampus di PTKIN yang ada di Kota Salatiga. hal tersebut berimbas ketika penyeleksian panitia PBAK, dimana banyak  dari anggota tim penyeleksi adalah kader-kader PMII yang menjabat di struktur organisasi intra kampus. Sehingga hal tersebut akan menjadi terlihat sangat oligarki, namun hal ini akan berbeda apabila organisasi ekstra yang lain seperti HMI, IMM dan KAMMI bersaing dengan keras dan akan menjadikan good goverment di kampus. 


Previous Post
Next Post

Silahkan menulis di blog ini semau anda, yang penting punya hasrat untuk menulis

4 komentar: