Minggu, 25 April 2021

Indah Tapi Tak Sempurna


Aku Galung, duduk di depan rumah dengan angin sepoi-sepoi di damping secangkir kopi pahit adalah salah satu rutinitas dan hobiku. Melihat tetangga yang sedang bermain dengan anaknya, tertawa riang berlarian kesana-kemari disusul sang istri yang keluar membawakan setoples makanan ringan. Senang melihat pemandangan semacam itu, terasa sejuk di hati namun ada percikan perih juga di hati yang memancing asam lambungku naik. Entah mengapa rasa lega, bahagia melebur menjadi satu dengan rasa sakit sesak didada dan lambung.

Siang ini aku belum tau ingin membawa hidupku kemana, mungkin hari ini aku akan membereskan pekerjaan rumah kecuali memasak. Baik, akan ku kerjakan sekarang juga semua pekerjaan itu sebelum ashar tiba. Akhirnya pekerjaan itu selesai, badanku terasa pegal dan kusegerakan merebahkan badanku di atas lantai  tanpa alas ini. Jika sudah begini pasti pikiranku melayang. Jauh melejit aku berjalan-jalan di masalalu, mengingat semuanya mengapa bisa terjadi kepadaku. Salahkah aku dalam posisi ini ? jika bukan aku yang salah mengapa aku tidak bisa seperti kebanyakan anak di sekitarku ?. 

Masa kecilku sama dengan tetangga dan temanku, bermain, berlari, tertawa bersama. Namun selalu ada yang kurang di kehidupanku. Entah sejak umur berapa aku menyadari apa yang kurang di hidupku. Namun kurasa baru saja aku sadar apa yang kurang di hidupku, setiap kali aku ingat selalu saja sesak nafasku. Melihat temanku di buatkan mobil-mobilan ayahnya aku iri, ingin menangis tapi malu. Lelaki harus kuat sekuat baja, jangan cengeng. Jika aku menangis siapa yang mengusap airmata ibuku ?.
Lagi-lagi aku teringat mengapa aku bisa bekerja di umur 13Tahun ini. Aku malas sekolah, entah mengapa aku tak ada niatan sekolah. Di hajar habis-habisan aku oleh tiga lelaki di rumahku, kedua pamanku dan kakekku. Aku hanya bisa menangis dan melawan semampuku saat aku di hajar. Saat itu aku berfikir apa salahku sampai di hajar begini ? memang ini mauku ? aku berhenti sekolah juga bukan mauku, aku hanya malas saja kenapa aku tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain? Setiap hari sepulang sekolah aku harus mengerjakan pekerjaan rumah, jika tidak, bisa habis aku di tampar kakek. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar aku harus mencuci bajuku sendiri. Memang enak hidup seperti ini ? aku tak tau ayahku siapa dan ibuku harus bekerja diluar Kota. Setelah kelas 4 Sekolah Dasar tiba-tiba Ibuku menikah dengan seseorang yang rumahnya jauh dari Desaku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak rela ibuku pergi bersama lelaki itu, aku tak kenal siapa dia Lelaki berkumis tinggi dan hitam. 

Sering tertawa aku bila mengingat kejadian saat ibuku menikah lagi. Namun terasa perih saat ingat aku harus bekerja karena di umur 13Tahun tidak mau sekolah lagi. Itu prinsip kakekku, kamu boleh tidak sekolah asalkan kamu harus bekerja. Aku pernah bekerja di daerah Ibukota di umur 13Tahun, tanganku kasar, kulitku menghitam, kakiku mulai berotot, dan sepertinya hatiku ikut membatu karena pekerjaan itu. Ya Tuhan hidup macam apa yang aku jalani saat ini ?. Aku sudah merasakan bagaimana hidup di Ibukota, dengan makan seadanya, tidur di ruangan sempit dengan beberapa orang lainnya. Uang yang ku terima memang banyak namun, tenaga yang ku keluarkan juga tidak sedikit. Aku harus mengaduk semen, mengangkat bahan bangunan untuk membentuk sebuah bangunan rumah megah bertingkat.

Saat aku sudah lelah bekerja merantau, di umur 17Tahun aku ikut ibuku yang hidup di kota tetangga tempat asalku. Disana aku ikut ibuku berdagang sayuran dan lauk-pauk. Toko sayur ibuku berada di depan rumah. Setiap pukul tiga pagi aku sudah pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, awalnya aku bahagia bisa membantu ibuku walaupun aku harus hidup dengan ayah dan saudara tiriku yang berjumlah lima orang. Hidupku mulai tampak seperti kebanyakan anak di luaran sana, berjalan satu tahun aku hidup disana aku mulai sering mendengar ayah dan ibuku bertengkar. Hampir setiap pagi saat aku dan ibu akan ke pasar ayah baru masuk rumah dan itu membuat ibu naik pitam.
Seringkali ibu menangis sejadi-jadinya karena melihat kelakuan ayah tiriku. Bagaimana tidak, seorang perempuan bangun pukul tiga pagi untuk bekerja hingga sore pun masih banyak pembeli dan malamnya harus membungkus bumbu-bumbu yang akan di jual di pagi harainya lagi, namun, ayah tiriku ia berangkat memancing dari ashar hingga pukul tiga pagi baru dia pulang. Perempuan mana yang sanggup melihat suaminya seperti itu hampir setiap hari. Sudah tau apa yang selalu membuat mereka bertengkar, tetapi ayah tiriku masih saja mengulangi kesalahannya. Aku lelah, sejak kecil ayah kandungku tidak tau dimana dan mengapa meninggalkan aku saat usiaku dua bulan di perut ibu. Aku menangis ibu dinikahi lelaki ini, aku takut hal buruk terjadi pada ibuku dan ia menangis lagi karena lelaki ini dan kini benar-benar terjadi. Aku kesal, aku lelah melihat ibu memaki ayah tiriku dan ayah tiriku beberapakali memukul ibu. Tahukah Bu, aku hanya ingin hidup tertawa bersama orang tua dan saudaraku layaknya keluarga lain di luar sana ? kejadian ini membuatku takut memikirkan masa depan ku nanti, bagaimana jika aku tidak bisa membahagiakan wanitaku nanti? Bagaimana jika aku menjadi lelaki seperti ayahku yang meninggalkan ibu saat masih mengandung aku? Bagaimana jika aku nanti menjadi lelaki yang selalu melampiaskan kekesalanku dengan melakukan kekerasan fisik kepada wanitaku? Bagaimana nanti jika aku tidak mampu menafkahi keluarga kecilku? Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, daripada memikirkan itu semua bukankah yang lebih penting sekarang adalah menjadikan bahuku sekuat baja dan kakiku  harus sekeras batu karang?. Entah lah yang kelihatannya indah ternyata tak selalu sempurna.

Selasa, 02 Maret 2021

SEKOLAH IMPIAN

                          










Dia Manis umurnya tujuh belas tahun namun, dia sudah hidup dengan berbagai macam pemikiran yang tidak sama seperti teman seumuran-nya.
 Di sekolah, Manis sering melamun saat guru menjelaskan materi pelajaran dan ia sering sekali di tegur oleh gurunya akibat melamun. Dalam lamunanya ia berfikir akan banyak hal soal kebijakan-kebijakan yang berlaku di sekolah. Ia adalah salah satu siswa yang tidak begitu pandai, tidak mudah mengingat, tidak mudah menghafal dan hanya menyukai segala hal tentang praktik yang ada di sekelilingnya. Seperti, berfikir tentang keadaan Negaranya yang membuat aturan, namun masih banyak pelanggaran. Dalam kehidupan sosial seperti anak yang kurang mampu di sekolahnya tidak bisa memakai seragam dan sepatu yang layak di sekolahnya. 
Manis selalu memikirkan cara bagaimana agar sekolah yang sedang ia jalani saat ini bisa seperti apa yang ia impikan. 

Sekolah yang memberi kebebasan muridnya untuk berfikir, bertindak dan mengemukakan pendapat. Pandangan itu selalu buyar ketika ada guru yang menegurnya, “jika masih ingin melamun, silahkan keluar dari kelas saya.” Begitulah kiranya teguran dari sang guru. Namun itu tak membuatnya berhenti untuk melamun dan memikirkan apakah bisa aku bersekolah di tempat yang aku inginkan seperti itu. 

Di setiap sore manis selalu membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah. Buku yang ia baca bermacam-macam novel fiksi, novel non-fiksi, buku sejarah, komik animasi, dan kadang ia juga mencari buku yang judulnya terdapat kata ‘perlawanan’ atau ‘melawan’. Saat ia membaca novel fiksi pikirannya melambung jauh membayangkan segala kejadian yang ada di novel itu benar-benar terjadi dan perasaannya sangat bahagia ketika membayangkan kejadian di novel itu benar-benar terjadi. Seringkali ia melamun bahagia ketika mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di dalam novel yang sering ia baca. Ia pernah membaca novel yang menceritakan kisah anak-anak yang masih berumur duabelas tahun namun, ia sudah bisa berwirausaha. Ketika teman-temannya menghabiskan uang untuk membeli ke lereng ia menjadi penjual kelereng yang mendapatkan banyak keuntungan, ketika tean-temannya menghabiskan uang untuk membeli layangan anak kecil itu menjadi penjual layangannya. Manis sangat kagum membayangkan perjuangan anak kecil itu untuk mendapatkan uang.

Padahal umur duabelas tahun harusnya masih berfikir untuk bermain dan tidak ada niatan untuk mencari uang namun, yang terjadi pada anak kecil itu tidak seperti kebanyakan anak kecil duabelas tahun lainnya dan itu membuat Manis semakin berani membayangkan sekolah impiannya. 
                                    ***
Siang hari saat Manis pulang sekolah berjalan sendirian menuju jalan raya, ada teman manis bernama Jhono yang tiba-tiba menepuk punggungnya sangat keras dan berkata “ Heiii nis, gimana masih pengen sekolah impian itu?” (ia menyapa Manis sambil tertawa sekencangnya). Manis pun menjawab “ Ya.. masih, kamu tau sendirikan aku ini bukan anak yang pintar menghafal pendapat para ahli.”. Jhono pun masih tertawa geli lalu menanggapi jawaban Manis “ Wah.. kalo begitu aku juga mau dong nis ikut sekolah yang tidak ada menghafal mengingat dan hanya membutuhkan pendapat siswanya”. 
Manis pun tersenyum lesu dan menjawab “ Eh.... kamu pikir ada sekolah di sini yang akan memebaskan muridnya untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan? Aku juga masih memikirnkannya mungkinkah ada atau bahkan tidak akan pernah ada sampaikapanpun.”
Jhono mengerutkan keningnya dan berkata “ Hmmmm... kenapa tidak kita saja yang mewujudkan sekolah impian kita itu. Kamu Kepala Sekolahnya dan aku sebagai petugas serabutan.” Dilanjutkan gelak tawa yang tak berhenti.
“ Eh, Jhon jangan begitu dong, kamu ini mau menyemangatiku atau hanya mau membuatku tambah pesimis dengan impuanku sendiri sih.” Dengan muka cemberut Manis pun berhenti di pinggir jalan raya untuk menunggui angkutan Kota menuju rumahnya. Jhono yang kebetulan rumahnya bersebelahan gang dengannya ikut menunggu angkutan Kota, tidak lama sudah aada angkutan Kota yang datang lalu mereka pun naik angkutan tersebut. Di dalam angkutan itu, tidak ada percakapan sama sekali mereka berdua hanya melamun memikirkan apa saja yang bisa mereka pikirkan dan menghayal. Sampai angkutan berhenti di gang mereka masih saja tidak melakukan percakapan sama sekali akhirnya, mereka mengucapkan salam perpisahan lalu masuk ke gang rumah masing-masing.

Sesampainya dirumah Manis melepas sepatu dan melempar tasnya ke dalam kamar lalu ia segera merenahkan badan di tempat tidurnya. Manis memikirkan semua perkataan Jhono sahabatnya sejak kecil, apakah bisa aku bersekolah di tempat seperti itu? Apakah mungkin ada sekolah macam itu? Saat membayangkan itu manis tertidur.
                                   
Pagi harinya Manis agak tergesa-gesa karena sudah agak kesiangan, ia tak sempat sarapan dan langsung berangkat kesekolah begitusaja.
Sesampainya di sekolah Manis agak bingung, kenapa semuanya terasa asing ia mencari-cari Jhono di tempat biasanya kok tidak ada? Belum sampai bertemu dangan Jhono bel masuk pun terdengar. Akhirnya Manis masuk kedalam kelas, di dalam kelas ia kaget dengan apa yang di jelaskan oleh gurunhya, gurunya mengatakan “ Di sekolah ini dilarang untuk menghafal dan latihan mengingat, semua yang kalian kerjakan berdasarkan pendapat kalian masing-masing melalui langkah-langkah : observasi langsung, melalui kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalran rasional, melalui pemahaman yang tiba-tiba saja datang dari dunia lain dan di luar kesadaran dan pikiran yang tersusun mendasari dan menggambarkan semua secara visual.

Betapa bahagianya Manis mendengar itu, ia tidak harus menghaplkan pendapat para ahli, karena gagasan, pendapat dan pandangan muridnya lebih dihargai dan di dengar. Karena kebijakan itu ia bisa mengguakan ilmu secara wajar, karena selama ini ilmu hanya membuat para murid tidak bahagia karena merasa hanya menjadi robot-robot yang di seragamkan pemikirannya, tidak hanya bajunya saja yang di seragamkan namun, cara berfikirnya juga di seragam kan harus sama semua pendapatnya, harus sama semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh guru, jawaban yang dihasilkan harus sama seperti pendapat para ahli.
Beberapa saat kemudian ada suara guru yang memberi pertanyaan dan harus di jawab sesuai dengan pendapat murid-muridnya “ Mengapa Ilmu yang selama ini kita pelajari yang harusnya membawa manfaat yang lebih besar pada kita tetapi pada kenyataanya hanya membawa kebahagiaan sedikit pada kita?”. Manis tersenyum lebar ia pun bersiap-siap merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sang guru, sudah banyak kata yang ia rangkai dan saat giliran ia mengemukakan pendapat ia malah terjatuh dari tempat tidurnya. Ternyara, semua yang ia alami itu tadi hanyalah bunga tidur dari impian-impiannya selama ini yang tidak akanpernah terjadi, Manis merasa jengkel dan kesal dangan kejadian yang baru saja ia alami itu karena, ternyata apa yang ia impikan tidak akan pernah jadi kenyataan di dalam kehidupannya.
                                 TAMAT




Selasa, 29 September 2020

Di Bawah Mimpi Tentara Rakyat

 


Pada suatu malam yang  menegangkan, tiba-tiba terdengar suara letusan. Sontak aku terbangun dan bergegas pergi dari tempat tidurku. Terdengar pekikan takbir dan tangisan yang menderu. 

“Revolusi..... Revolusi... Revolusi....!!! 

“Allohu akbar..... Astaghfirullah.... Allohhh....”

“Dor... Dor... Dor.... “

“Tanah ini milik rakyat..... Tanah ini milik rakyat...!!!  

“Bakar...... Bakar .... Bung bakar!! 

Aku hanya bisa berlari kearah kebun dibelakang rumah, terseok-seok langkahku setelah kakiku banyak menabrak akar-akar pohon. Dari arah yang berlawanan, nampak begitu banyak orang yang telah membawa berbagai macam senjata.

“Mau lari kemana kamu ?” (Teriak salah seorang dari arah berlawanan itu). 

Seketika aku berputar arah dan berlari menghindari gerombolan tersebut.

“Srakkkk...... “

Aku terperosok masuk kedalam aliran sungai. Tubuhku tak berdaya melawan derasnya arus, hingga terbentur batu-batu sungai. Seketika aku…

“Mas... mas? Bangun mas?” (kata pemuda itu seraya mengguncang tubuhku )

“Haaaaa.....”teriakku sambil gelagapan.

“Jangan takut Mas, mereka sudah pergi” 

“Siapa mereka? Tanyaku. 

“Tentara Rakyat Mas” jawabnya. 

“Kenapa mereka membantai orang-orang di kampungku? 

“Kata mereka, negara kita sudah tidak memihak dengan rakyat kecil Mas”

“Mereka gilaa..”

“Sudah Mas, Anda mungkin masih trauma setelah kejadian tadi malam, mari ikut Saya!” 

Aku mulai menyadari ternyata banyak jasad-jasad tergeletak di bibir sungai, banyak tubuh-tubuh yang tak utuh lagi dengan kepala. 

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Terdengar kabar bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia politik Mas"

“Politik apa? Apa ini ada hubungannya dengan Bapak Presiden?  

“Saya tidak tahu Mas, Kami juga tidak menyangka mereka setega itu dengan para Kiai” 

“Ada apa dengan para Kiai? 

“Mereka banyak diserang oleh kelompok yang mengatasnamakan Tentara Rakyat, dengan dalih telah banyak menguasai tanah dan tidak mendukung revolusi”

“Apa itu revolusi? 

“Kata salah satu temanku yang ikut mereka, yaitu memperjuangkan hak rakyat dan buruh” jawabnya. 

“Tapi Aku tidak tau apa masalah mereka, mengapa ia ingin membunuhku tadi malam? 

“Dimana rumah mu Mas? 

“Dusun Karang Asem” Jawabku. 

“Alhamdulillah engkau masih selamat Mas. Saat fajar menyingsing, beredar kabar bahwa mereka telah membantai banyak warga di Dusun tersebut Mas”

Bersamanya, Aku diajak ke sebuah perkampungan yang nampak asing bagiku. Di teras-teras rumah warga terdapat kain yang bergambar bulan sabit dan bintang di tengahnya. Aku merasa curiga kepada pemuda yang membawaku kemari. 

“Hei? kamu ingin membunuhku ya? Tanyaku dengan nada tinggi. 

“Tenang Mas, kamu akan aman di sini, kita berbeda dengan mereka”

Aku memberi jarak dengannya, rasa kecurigaan ku semakin menguat ketika ada segerombolan orang yang datang membawa bilah pedang ditangan mereka. Tanpa pikir panjang Aku berbalik arah dan lari meninggalkan tempat itu.

“Brakkk” tubuhku tersungkur ketanah untuk yang kesekian kali. 

Tiba-tiba pemuda tadi mengulurkan tangannya dan membantuku untuk beranjak. 

“Tenang Mas, kita nggak akan membunuh sampean, sekarang ikutlah anak ini kerumahnya. Silakan (baku Silakan) bersihkan diri anda! Kata salah seorang dari mereka. 

“Ada apa dengan negara ini? Mengapa kita saling membunuh? 

“Sudah Mas, tenangkan dirimu. Ayo kita istirahat dulu dirumah saya! Seraya merangkul pundak ku, dia menuntunku kerumahnya.

Pada saat malam tiba, suasana mencekam terulang kembali. Aku tidak diperkenankan oleh pemuda itu untuk keluar rumah. 

“Pemberontak datang... Pemberontak datang!! Allohuakbar.....” 

Pekikan itu terus terdengar dan lambat laun semakin menghilang ditelan jarak. Aku melihat mereka yang ternyata saling mengayunkan bilah pedang. Aku semakin ketakutan, dengan sisa tenagaku, aku berlari ke pintu belakang dan ternyata pintu itu sudah dikunci rapat-rapat. Aku mengintip dari balik jendela. Betapa terkejutnya aku, melihat mereka yang saling kebal akan bacokan dan muntahan-muntahan timah panas.Tentara Rakyat banyak yang dihabisi oleh warga desa ini. 

Malam itu pun rasanya berlalu begitu cepat. Aku merebahkan tubuhku dengan mata yang sulit kupejamkan. Sembari berpikir “Ada apa dengan masyarakaat ini, mengapa mereka saling membunuh, dulu saat diserbu oleh kerajaan seberang kita bersama-sama berjuang melawannya. Namun sekarang ada apa? Tak terasa aku sudah lupa akan pikiran-pikiran itu dan.....”




NULISONDES