Minggu, 29 Agustus 2021

KHANAH





Khanah 


Seolah menjadi diktrum bahwa tempat berpulang paling ramah adalah 'rumah'
Senyaman ruang-ruang raung  yang membuat kita riang. 
Juga meneteskan beribu nestapa yang dikeluhkan oleh orang-orang bijaksana. 

Seperti menguap dengan lesu, peluhmu, anganmu juga citamu. 

Sedari kecil kita memperoleh dorongan penuh untuk mengangkasa, 
Dewasa ini kita sadar tak ada angkasa yang abadi, 
kita perlu membumi untuk kembali ke khanah yang sejati. 

Ada yang menerimamu dengan jiwa yang paling luas, 
Dari kesombonganmu yang menyempitkan.

Bilik-bilik sempit, gelas-gelas teh dengan sabit senyumnya, tidak padam hingga berkali-kali purnama. 

Sembari tergugu haru, 
Seusai kau melalang, terjatuh, tak menemui kedamaian setelah angin tertiup bahkan terhenti. 

Terus gelisah karena tidak pernah beristirahat dari berbagai hasrat. 

Juga seusai kau mengkhatamkan mimpi-mimpimu.

Cium aroma wangi setiap kisahmu, 
Peluk hangat setiap rangkulan yang menenangkan juga memenangkan. 

Di sana, 
Dimana ketika segalanya mulai lahir, 
Nama-nama yang tumbuh 
Lalu kisahmu yang pergi. 

Lamunan yang mulai memburam dari kedua retina kasih hatimu, 
Menjelma bangunan, memantulkan banyanganmu berpulang. 


Jika ada waktu, 
kembali menziarahi sudut-sudutnya, 
Sekadar mengulang kenangan atau kembali mencipta kebahagiaan. 


Salatiga, 30 Agustus 2021

Sabtu, 28 Agustus 2021

SALAH



Salah

By Ray

Salah....
Kata itu tak bisa jauh dari manusia
Ada yang bilang bawah
"Ya namanya juga manusia tempat nya salah dan dosa"
Bukan...
Bukan begitu seharusnya
Jika semuanya menganggap manusia adalah tempatnya salah
Maka tak ada manusia yang berusaha untuk benar
Bahkan bisa dibilang bahwa mereka yang berpahaman seperti itu terkesan lebih menyepelekan sesuatu
Atau bisa jadi berlindung dari kalimat itu
Jika seseorang mulai sadar akan peran dan tanggungjawab nya 
Maka kalimat itu tidak bisa dijadikan tameng untuk dirinya mendapatkan kata maaf dengan mudah
Kuncinya hanya satu
Ketika sudah melakukan kesalahan lalu ucapan maaf
Dan....
Yang paling penting itu mau mengakui dan tidak untuk di ulangi

Selasa, 24 Agustus 2021

SETAPAK KEHIDUPAN



Setapak kehidupan
Oleh: Ahmad Nafis Ngubaidillah

Hari terus berganti
Ayunan kaki tak kunjung henti
Nirvana kehidupan berada ditepi
Teramat sukar untuk dihinggapai
Dan...

Semua terasa fana 
Hingga raga ini berkunjung dipadang dusta
Yang terlihat merupakan tipu daya
Dari seonggok orang bertahta mahkota
Mengibuli manusia yang tidak berdaya
Memainkan ular tangga dengan lihainya

Huuhhhffh...
Pasrah? Salah,
Melawan?, baku hantam tak terelakkan,
Gimana kawan?, ada saran??

Sabtu, 21 Agustus 2021

PAYUNG


Payung

Hujan sudah reda
Tugas sang payung sudah purna
Payung yang pernah meneduhuimu sudah tak  berguna

Kini payung yang pernah kau pakai sudah usang
Kini payung yang pernah menemanimu sudah tak bertuan

Pelangipun datang
Menggantikan sang hujan
Sang payung terlenakan
Dengan sadar payung yang meneduhi rintikan air hujan terlupakan


Ahmad arif kurniawan

Minggu, 15 Agustus 2021

TUNDUK HATI SUCI

Kuawali bait dengan ikhlas, tiba tercipta
Bersambung sabar tak terbatas, 
aku tak mengerti jika hanya terlintas.

Belajar mengendalikan harapan atas keinginan,
Mempersiapkan dan berancang atas wujud kehilangan.
Kurasa ini rumus terbaik yg tidak dipahami selain hamba,
Mereka? Mereka tak mampu memahami penjelasannya, bahkan tak bersedia mendengarkannya.
Kuyakini besok lusa akan ada takdir yang tercipta.
Jika tidak, sederhana saja bahwa sejatinya hanya pelajaran semata.

Ku akhiri kalimat 
"seandainya ada kesempatan kedua".

Rabu, 04 Agustus 2021

TIDUR




Kau kemanakan selimut tebalmu? 
Dulu, ia tak pernah membiarkan jiwaku yang rapuh ini kedinginan
Helaian benangnya memelukku hangat
Hingga harapan yang dingin memilih pergi meninggalkan mimpi

Kau sembunyikan di mana bantal kesayanganku? 
Yang orang-orang awam menyebutnya bahu
Kepalaku kini hanya terganjal bebatuan terka
Sama sekali tak nyaman kugunakan setelah seharian menyelesaikan pekerjaan

Mataku sudah sedari tadi memejam
Aku belum tidur
Kenangan mendepakku ke masa lalu
Di mana jemarimu yang merah menyisir rambutku; lelap di pangkuanmu

Ilusi  datang tanpa permisi; tak dapat kuhindari
Menari di atas kebahagiaan yang hanya ada pada cerita-cerita masa depanmu
Aku tak ingin tenggelam pada lautan khayal
Sayangnya, kau tak mengajariku berenang menyelamatkan diri

Sekali lagi kutanyakan padamu
Maukah kau memukul wajahku 
tanpa menyakitiku? 

Sampai aku lelap seperti dulu.