Kamis, 20 Mei 2021

BISING






Bising

Terdengar alunan air hujan yang menjatuhkan dirinya pada genting rumah kakek, 
Terlihat Nenek tengah terbujur, bernafas teratur diatas kasur yang mulai mengeras. 
Cucu dan putra-putrinya tengah terlelap pada denting yang bising.
Sehela kemudian hanya menggantungkan hidup pada pemilik semesta. 
Sebait kata yang kutulis seirama dengan alunan dawai padang pasir.
Setidaknya alam telah bergembira dengan bermusik denganku.
Mataku mulai sayup-sayup ingin terpejam meninggalkan kebisingan, 
Aku mulai menaruh jiwa raga lemah ini pada kebisingan.
Menuju separuh ketenangan.

Minggu, 25 April 2021

Indah Tapi Tak Sempurna


Aku Galung, duduk di depan rumah dengan angin sepoi-sepoi di damping secangkir kopi pahit adalah salah satu rutinitas dan hobiku. Melihat tetangga yang sedang bermain dengan anaknya, tertawa riang berlarian kesana-kemari disusul sang istri yang keluar membawakan setoples makanan ringan. Senang melihat pemandangan semacam itu, terasa sejuk di hati namun ada percikan perih juga di hati yang memancing asam lambungku naik. Entah mengapa rasa lega, bahagia melebur menjadi satu dengan rasa sakit sesak didada dan lambung.

Siang ini aku belum tau ingin membawa hidupku kemana, mungkin hari ini aku akan membereskan pekerjaan rumah kecuali memasak. Baik, akan ku kerjakan sekarang juga semua pekerjaan itu sebelum ashar tiba. Akhirnya pekerjaan itu selesai, badanku terasa pegal dan kusegerakan merebahkan badanku di atas lantai  tanpa alas ini. Jika sudah begini pasti pikiranku melayang. Jauh melejit aku berjalan-jalan di masalalu, mengingat semuanya mengapa bisa terjadi kepadaku. Salahkah aku dalam posisi ini ? jika bukan aku yang salah mengapa aku tidak bisa seperti kebanyakan anak di sekitarku ?. 

Masa kecilku sama dengan tetangga dan temanku, bermain, berlari, tertawa bersama. Namun selalu ada yang kurang di kehidupanku. Entah sejak umur berapa aku menyadari apa yang kurang di hidupku. Namun kurasa baru saja aku sadar apa yang kurang di hidupku, setiap kali aku ingat selalu saja sesak nafasku. Melihat temanku di buatkan mobil-mobilan ayahnya aku iri, ingin menangis tapi malu. Lelaki harus kuat sekuat baja, jangan cengeng. Jika aku menangis siapa yang mengusap airmata ibuku ?.
Lagi-lagi aku teringat mengapa aku bisa bekerja di umur 13Tahun ini. Aku malas sekolah, entah mengapa aku tak ada niatan sekolah. Di hajar habis-habisan aku oleh tiga lelaki di rumahku, kedua pamanku dan kakekku. Aku hanya bisa menangis dan melawan semampuku saat aku di hajar. Saat itu aku berfikir apa salahku sampai di hajar begini ? memang ini mauku ? aku berhenti sekolah juga bukan mauku, aku hanya malas saja kenapa aku tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain? Setiap hari sepulang sekolah aku harus mengerjakan pekerjaan rumah, jika tidak, bisa habis aku di tampar kakek. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar aku harus mencuci bajuku sendiri. Memang enak hidup seperti ini ? aku tak tau ayahku siapa dan ibuku harus bekerja diluar Kota. Setelah kelas 4 Sekolah Dasar tiba-tiba Ibuku menikah dengan seseorang yang rumahnya jauh dari Desaku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak rela ibuku pergi bersama lelaki itu, aku tak kenal siapa dia Lelaki berkumis tinggi dan hitam. 

Sering tertawa aku bila mengingat kejadian saat ibuku menikah lagi. Namun terasa perih saat ingat aku harus bekerja karena di umur 13Tahun tidak mau sekolah lagi. Itu prinsip kakekku, kamu boleh tidak sekolah asalkan kamu harus bekerja. Aku pernah bekerja di daerah Ibukota di umur 13Tahun, tanganku kasar, kulitku menghitam, kakiku mulai berotot, dan sepertinya hatiku ikut membatu karena pekerjaan itu. Ya Tuhan hidup macam apa yang aku jalani saat ini ?. Aku sudah merasakan bagaimana hidup di Ibukota, dengan makan seadanya, tidur di ruangan sempit dengan beberapa orang lainnya. Uang yang ku terima memang banyak namun, tenaga yang ku keluarkan juga tidak sedikit. Aku harus mengaduk semen, mengangkat bahan bangunan untuk membentuk sebuah bangunan rumah megah bertingkat.

Saat aku sudah lelah bekerja merantau, di umur 17Tahun aku ikut ibuku yang hidup di kota tetangga tempat asalku. Disana aku ikut ibuku berdagang sayuran dan lauk-pauk. Toko sayur ibuku berada di depan rumah. Setiap pukul tiga pagi aku sudah pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, awalnya aku bahagia bisa membantu ibuku walaupun aku harus hidup dengan ayah dan saudara tiriku yang berjumlah lima orang. Hidupku mulai tampak seperti kebanyakan anak di luaran sana, berjalan satu tahun aku hidup disana aku mulai sering mendengar ayah dan ibuku bertengkar. Hampir setiap pagi saat aku dan ibu akan ke pasar ayah baru masuk rumah dan itu membuat ibu naik pitam.
Seringkali ibu menangis sejadi-jadinya karena melihat kelakuan ayah tiriku. Bagaimana tidak, seorang perempuan bangun pukul tiga pagi untuk bekerja hingga sore pun masih banyak pembeli dan malamnya harus membungkus bumbu-bumbu yang akan di jual di pagi harainya lagi, namun, ayah tiriku ia berangkat memancing dari ashar hingga pukul tiga pagi baru dia pulang. Perempuan mana yang sanggup melihat suaminya seperti itu hampir setiap hari. Sudah tau apa yang selalu membuat mereka bertengkar, tetapi ayah tiriku masih saja mengulangi kesalahannya. Aku lelah, sejak kecil ayah kandungku tidak tau dimana dan mengapa meninggalkan aku saat usiaku dua bulan di perut ibu. Aku menangis ibu dinikahi lelaki ini, aku takut hal buruk terjadi pada ibuku dan ia menangis lagi karena lelaki ini dan kini benar-benar terjadi. Aku kesal, aku lelah melihat ibu memaki ayah tiriku dan ayah tiriku beberapakali memukul ibu. Tahukah Bu, aku hanya ingin hidup tertawa bersama orang tua dan saudaraku layaknya keluarga lain di luar sana ? kejadian ini membuatku takut memikirkan masa depan ku nanti, bagaimana jika aku tidak bisa membahagiakan wanitaku nanti? Bagaimana jika aku menjadi lelaki seperti ayahku yang meninggalkan ibu saat masih mengandung aku? Bagaimana jika aku nanti menjadi lelaki yang selalu melampiaskan kekesalanku dengan melakukan kekerasan fisik kepada wanitaku? Bagaimana nanti jika aku tidak mampu menafkahi keluarga kecilku? Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, daripada memikirkan itu semua bukankah yang lebih penting sekarang adalah menjadikan bahuku sekuat baja dan kakiku  harus sekeras batu karang?. Entah lah yang kelihatannya indah ternyata tak selalu sempurna.

Rabu, 21 April 2021

Alam Pikiran RA Kartini




Sosok perempuan hebat yang terlahir dari keturunan kalangan terdidik, merupakan tirakat sang kakek yaitu Tjondronegoro yang telah membuka jalan pendidikan Eropa kepada putra-putranya diantaranya adalah ayah dari Kartini yaitu Raden Mas Ario Sosroningrat. Dari sang ayah ini silsilah Kartini bersambung dengan raja-raja Jawa (Hamengkubuwono VI). Namun, dalam surat-suratnya, Kartini tidak pernah menyebutkan garis keturunannya melainkan mengatakan bahwa silsilahnya itu sudah terlewatkan.

Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Seperti kamu juga. Menurut garis keturunan ayah, raja terakhir dalam keluarga kami, sudah berlalu 25 keturunan. Tapi, ibu, masih bersaudara dekat dengan raja Madura. Moyangnya, raja yang bertahta dan neneknya ratu mahkota.


Kartini lahir pada 21 April 1879 M/ 28 Rabiul Akhir 1297 H di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Kondisi keluarga yang berasal dari ayah keturunan bangsawan dan ibu dari kalangan rakyat biasa lalu memiliki ibu tiri dari kalangan bangsawan membuat Kartini mendapatkan kasih saying dan belaian dari beberapa orang. Ada yang mengatakan bahwa ia diasuh langsung oleh sang ibu namun ada juga yang mengatakan bahwa Kartini diasuh oleh ibu tirinya. Hal ini didasarkan bahwa Sosroningrat menjadi bupati setelah melakukan pernikahan dengan ibu tirinya yaitu RA Woerjan. Maka tersingkirkanlah ibu kandung dari hak mengasuh anak karena Kartini dianggap sebagai putri keturunan bangsawan. Ada pendapat yang diutarakan oleh Marie C. Van Zeggelen bahwa Kartini diasuh oleh embannya yaitu Rami. 

Dalam hal berfikir dan berpendapat, Kartini lebih sealan dengan saudara laki-laki kandungnya yaitu RM Sosrokartono. Hal ini dikarenakan kecerdasan sang abang dari segi pendidikan maupun Bahasa asingasing, yang hampir menguasai 30 bahasa asing. Tidak jarang Kartini sering berdiskusi dengannya apalagi ketika Kartini menemukan kemusykilan setelah membaca buku-buku berbahas Belanda maka ia akan menanyakannya kepada sang abang.

Kartini adalah seorang wanita yang hidup ditengah hempitan dua zaman, yaitu zaman feodalisme yang dikuasai oleh kolonial Belanda dan tatanan baru yang pada waktu itu belum begitu pasti mampukah babak penjajahan baru akan masuk ke Indonesia yaitu imperialisme modern. Dua zaman yang menjadi babak baru bagi kehidupan Indonesia menjadikan keraguan dalam masyarakat secara spesifik yaitu perjuangan. Bagi seorang Kartini, tujuan adalah rakyat dan segala jalan yang mungkin menjadi keuntungan bagi rakyatnya adalah diberkahi. Menjadi seorang wanita pada masa itu membuat Kartini tidak memiliki cara lain selain melalui pendidikan. Ia tak memiliki massa yang mampu berjuang dengannya. Ia bukanlah seorang jendral perang yang mampu menginstruksikan ribuan pejuang untuk melakukan gerakan baru.

 Pada masa itu ia hanya dianggap sebagai wanita lemah yang setara dengan wanita kerajaan yang lain, diperlakukan khusus karena memiliki garis keturunan yang mulia dan dikekang atas nama menjaga nama baik keluarga.  
Kartini merupakan awalan dari bergeraknya sejarah modern di Indonesia, ia mampu meresap aspirasi-aspirasi guna kemajuan Indonesia. Tak ayal ia dijuluki sebagai konseptor bagi munculnya sejarah modern di Indonesia. Setelah pertemuannya dengan KH. Sholeh Darat menjadikannya lebih kukuh untuk berjuang terutama dalam rangka menghapuskan kasta yang begitu kental. Ia mulai paham bahwa Islam mengajarkan emansipasi evolusioner yang memandang bahwa hakikat hamba memiliki kedudukan yang sama. Emansipasi evolusioner yang mampu memaksa Kartini untuk menghapus sistem kasta yang semula vertikal menjadi horizontal, yakni adab.


Dalam gagasannya, Kartini memiliki cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa terutama bagi perempuan. Baginya seorang perempuan bagaimanapun juga akan menjadi seorang ibu, dan begitu hancurnya bangsa jika seorang balita yang akan meneruskan perjuangan harus berada pada asuhan wanita yang tidak memiliki keilmuan yang luas. Perjuangan Kartini untuk memperjuangkan kaum wanita di Jawa khususnya dapat tergambar ketika ia melihat sendiri nasib ibu kandungnya yang bukan keturunan bangsawan. 

Pada masa itu, syarat seorang bangsawan menjadi bupati adalah harus menikahi seorang wanita keturunan bangsawan. Sedangkan pernikahan ayah Kartini dengan ibu kandungnya dilaksanakan ketika Sosroningrat masih menjabat sebagai wedana Mayong, pada jabatannya itu ia masih bebas mau menikah dengan perempuan dari golongan apapun. 
Ngasirah (ibu kandung Kartini) paham betul apa yang akan terjadi pada dirinya ketika sang suami menjadi bupati. Tidak ada lagi canda kepada suami dan anaknya, ia harus hidup di dapur karena itu sudah aturan. Bahkan untuk memanggil sang anak kandung pun tidak bisa seenaknya begitu saja, Ngasirah harus memanggil Kartini anak kandungnya sendiri dengan sebutan Ndoro. Pedih yang dirasakan Kartini karena harus melihat kenyataan pahit yang terjadi pada ibu kandunya. Dari sini ia kemudian sangat membenci perilaku poligami, bukan tanpa alasan, tetapi karena poligami yang terjadi pada masa itu seakan menjadi ketertindasan bagi kaum wanita. 

Warisan leluhur berupa tata krama terkadang menjadi hantaman bagi Kartini yang pemikirannya telah terpengaruh oleh liberalisme dan feminisme Barat. Dalam tata krama Jawa memang harus mengorbankan keikhlasan yang mendalam walaupun terkadang jiwa sangat pedih menghadapinya. Ini yang terjadi pada keluarga Kartini, seakan ada tembok besar dalam keluarga mereka. Lalu apa yang membedakan antara tata krama warisan leluhur dengan feodalisme? Kartini hanya menganggap itu semua adalah aturan yang sangat rumit untuk dipahami. Maka Kartini tidak pernah menceritakan kondisi kedua ibunya kepada sahabat-sahabatnya melalui surat. Ia beranggapan bahwa memahami alam pikiran Jawa haruslah menggunakan kacamata Jawa. Karena ia sendiri telah merasakan, dari pengetahuannya yang begitu luas tentang Barat kemudian terkurung pada aturan Jawa.

Meskipun pemikiran-pemikirannya sangat gemilang, tidak dapat dipungkiri bahwa Kartini juga pernah menjadi korban feodalisme. Ia pernah menjadi gadis pingitan, tidak diperkenankan bergaul dengan dunia luar, keterbatasan berkomunikasi dengan rakyatnya sendiri terlebih kalangan paling bawah dan segala penderitaan sistem feodal lainnya yang membuat Kartini tergerak untuk merubah pola. Maka, dalam segala kebimbangannya memikirkan tata krama ataupun feodalisme Jawa, Kartini berusaha melahirkan gerakan perempuan (feminisme) untuk melawan kurungan-kurungan tersebut.


Sumber : Penafsiran surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah ayat 257 dalam kitab Faid al-Rahman karya KH. Sholeh Darat dan pengaruhnya terhadap pemikiran RA Kartini, karya Fahmi Fahreza, mahasiswa IAIN Salatiga


Oleh: Redaktur nulisondes

Jumat, 16 April 2021

Refleksi Harlah PMII Ke-61








Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Alhamdulillahirobbil alamin, segala puji Alloh yang merajai seluruh alam
Sholawat serta salam kita haturkan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Yang semoga kita kelak akan mendapat syafaat di hari akhir nanti. 

Pada malam tanggal 17 April 2021 PMII memperingati hari lahirnya, dimana saya masih terbangun dari tidur yang melelahkan. Saya sebagai kader PMII patut untuk bersyukur dan bangga, dengan rahmat Allah SWT saya masih bisa memperingati hari lahir PMII ke-61. Sebagai seorang pemuda sekaligus kader PMII l, hal tersebut tentunya menjadi sebuah tanggung jawab yang besar untuk menjadi penerus bangsa yang makmur ini. Apabila saya menganalisa pribadi saya sendiri, tentu ada harapan dan doa agar pemuda saat ini tidak berkarakter seperti saya yang pemalas, agar Indonesia bisa lebih maju, adil dan makmur. 

Seperti sambutan Presiden Jokowi pada pembukaan Kongres PMII XX yang belum lama telah terlaksana di enam wilayah pada masa pandemi ini, PMII harus menjadi navigasi perubahan di Indonesia, harus berinovasi dan adaptif pada perubahan zaman. 
Menurut saya, sambutan tersebut merupakan suatu tamparan keras bagi kader-kader PMII dimanapun. 

Hingga saat ini masih banyak kader-kader yang terisolasi pada kenyamanan semu, terkungkung pada kebiasaan lama, yang makin hari menjadikan dirinya termarjinalkan. Pada masa milenium ini, dimana kita harus vis a vis pada realita zaman, yang semakin menyeret kaum-kaum pinggiran pada kemiskinan ekonomi, pendidikan dan moral. 
Padahal, seringkali para pendahulu PMII yang menyerukan agar kader-kader harus menjawab tantangan zaman yaitu sebagai agen of change. 

Hadirnya PMII bukan hanya untuk deradikalisasi di kampus dan masyarakat, dimana hal tersebut merupakan suatu kewajiban sebagai para intelektual muda islam, namun hingga kini malah menjadikan dirinya terlena pada isu-isu tersebut. akan tetapi saat ini kader PMII harus menjadi pembela rakyat, yang saat ini masih dibawah jajahan kapitalis oligarki, hingga kini menyebabkan banyak penderitaan pada rakyat. Semestinya kita tidak hanya terbuai oleh jabatan-jabatan politik, yang ternyata hanya menjadikan buruh politik oleh kaum kapitalis oligarki tersebut. 

Pendiasporaan kader harus dilaksanakan dengan terstruktur dan strategis, hari ini kita sudah saatnya untuk mengembangkan kualitas kader. Sekaligus untuk mempersiapkan adanya bonus demografi pada tahun 2045 yang akan datang. Persaingan kita tidak hanya pada sektor politik yang berada di lembaga pemerintahan saja, namun persaingan kita, juga pada sektor yang lain, seperti ekonomi, pendidikan dan teknologi yang harus kita upayakan. Kiranya agar PMII bisa menjadi agen perubahan pada sektor masyarakat kelas bawah dan atas, dengan cara, merubah paradigma lama serta budaya-budaya yang menjadikan kita terkurung dan terkungkung. 

Dengan memperingati hari lahir PMII yang ke-61, seharusnya menjadikan kader PMII untuk tetap bersemangat dalam mewujudkan tujuan PMII. 

Wallahul muafiq ila aqwamit thariq
Wassalamu 'Alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Tangan terkepal dan maju ke muka
Salam pergerakan!!! 


Jumat, 12 Maret 2021

DIALOG SUKMA






Dialog Sukma....... 

Bukankah sejak dua hari lalu kau mengeluh pening?
Selarut ini masih terjaga?

Bukankah kau yg biasanya mengajakku terjaga?
Membahas perihal pasti namun selalu kau risaui

Bukankah kau yg selalu mengajakku debat?
Harusnya pembahasan kita selesai
Tapi kau selalu saja punya logika yg katamu lebih kuat

Sudaah cukup, ini sudah larut..
Harusnya kalian sama2 mendukungku untuk rebah
Mengapa kalian selalu berdebat hebat

Heii, bukankah sore ini kau minum kopi?


Pati, 07 maret 2021

Jumat, 05 Maret 2021

Kau adalah kehilangan yang selalu ku cari-cari






Kau adalah kehilangan yang selalu ku cari-cari

Kau adalah kehilangan yang selalu ku cari-cari
Dan senyummu adalah bahagiaku yang selalu ku curi-curi
Keinginanku bersamamu menjalin cinta yang hebat
Menjadi sekat antara aku dan akal sehat

Kau merantai aku pada malam-malam
Mematri pada sepi yang begitu berisik membicarakan kelam
Sampai aku diusir oleh diriku sendiri
Bersama impian-impian bodoh itu

Aku bertanya kepada waktu
Apakah semuanya akan tetap sama ?
Dan bagaimana kabarmu ?
Adalah doaku agar kau baik-baik saja

Selasa, 02 Maret 2021

SEKOLAH IMPIAN

                          










Dia Manis umurnya tujuh belas tahun namun, dia sudah hidup dengan berbagai macam pemikiran yang tidak sama seperti teman seumuran-nya.
 Di sekolah, Manis sering melamun saat guru menjelaskan materi pelajaran dan ia sering sekali di tegur oleh gurunya akibat melamun. Dalam lamunanya ia berfikir akan banyak hal soal kebijakan-kebijakan yang berlaku di sekolah. Ia adalah salah satu siswa yang tidak begitu pandai, tidak mudah mengingat, tidak mudah menghafal dan hanya menyukai segala hal tentang praktik yang ada di sekelilingnya. Seperti, berfikir tentang keadaan Negaranya yang membuat aturan, namun masih banyak pelanggaran. Dalam kehidupan sosial seperti anak yang kurang mampu di sekolahnya tidak bisa memakai seragam dan sepatu yang layak di sekolahnya. 
Manis selalu memikirkan cara bagaimana agar sekolah yang sedang ia jalani saat ini bisa seperti apa yang ia impikan. 

Sekolah yang memberi kebebasan muridnya untuk berfikir, bertindak dan mengemukakan pendapat. Pandangan itu selalu buyar ketika ada guru yang menegurnya, “jika masih ingin melamun, silahkan keluar dari kelas saya.” Begitulah kiranya teguran dari sang guru. Namun itu tak membuatnya berhenti untuk melamun dan memikirkan apakah bisa aku bersekolah di tempat yang aku inginkan seperti itu. 

Di setiap sore manis selalu membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah. Buku yang ia baca bermacam-macam novel fiksi, novel non-fiksi, buku sejarah, komik animasi, dan kadang ia juga mencari buku yang judulnya terdapat kata ‘perlawanan’ atau ‘melawan’. Saat ia membaca novel fiksi pikirannya melambung jauh membayangkan segala kejadian yang ada di novel itu benar-benar terjadi dan perasaannya sangat bahagia ketika membayangkan kejadian di novel itu benar-benar terjadi. Seringkali ia melamun bahagia ketika mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di dalam novel yang sering ia baca. Ia pernah membaca novel yang menceritakan kisah anak-anak yang masih berumur duabelas tahun namun, ia sudah bisa berwirausaha. Ketika teman-temannya menghabiskan uang untuk membeli ke lereng ia menjadi penjual kelereng yang mendapatkan banyak keuntungan, ketika tean-temannya menghabiskan uang untuk membeli layangan anak kecil itu menjadi penjual layangannya. Manis sangat kagum membayangkan perjuangan anak kecil itu untuk mendapatkan uang.

Padahal umur duabelas tahun harusnya masih berfikir untuk bermain dan tidak ada niatan untuk mencari uang namun, yang terjadi pada anak kecil itu tidak seperti kebanyakan anak kecil duabelas tahun lainnya dan itu membuat Manis semakin berani membayangkan sekolah impiannya. 
                                    ***
Siang hari saat Manis pulang sekolah berjalan sendirian menuju jalan raya, ada teman manis bernama Jhono yang tiba-tiba menepuk punggungnya sangat keras dan berkata “ Heiii nis, gimana masih pengen sekolah impian itu?” (ia menyapa Manis sambil tertawa sekencangnya). Manis pun menjawab “ Ya.. masih, kamu tau sendirikan aku ini bukan anak yang pintar menghafal pendapat para ahli.”. Jhono pun masih tertawa geli lalu menanggapi jawaban Manis “ Wah.. kalo begitu aku juga mau dong nis ikut sekolah yang tidak ada menghafal mengingat dan hanya membutuhkan pendapat siswanya”. 
Manis pun tersenyum lesu dan menjawab “ Eh.... kamu pikir ada sekolah di sini yang akan memebaskan muridnya untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan? Aku juga masih memikirnkannya mungkinkah ada atau bahkan tidak akan pernah ada sampaikapanpun.”
Jhono mengerutkan keningnya dan berkata “ Hmmmm... kenapa tidak kita saja yang mewujudkan sekolah impian kita itu. Kamu Kepala Sekolahnya dan aku sebagai petugas serabutan.” Dilanjutkan gelak tawa yang tak berhenti.
“ Eh, Jhon jangan begitu dong, kamu ini mau menyemangatiku atau hanya mau membuatku tambah pesimis dengan impuanku sendiri sih.” Dengan muka cemberut Manis pun berhenti di pinggir jalan raya untuk menunggui angkutan Kota menuju rumahnya. Jhono yang kebetulan rumahnya bersebelahan gang dengannya ikut menunggu angkutan Kota, tidak lama sudah aada angkutan Kota yang datang lalu mereka pun naik angkutan tersebut. Di dalam angkutan itu, tidak ada percakapan sama sekali mereka berdua hanya melamun memikirkan apa saja yang bisa mereka pikirkan dan menghayal. Sampai angkutan berhenti di gang mereka masih saja tidak melakukan percakapan sama sekali akhirnya, mereka mengucapkan salam perpisahan lalu masuk ke gang rumah masing-masing.

Sesampainya dirumah Manis melepas sepatu dan melempar tasnya ke dalam kamar lalu ia segera merenahkan badan di tempat tidurnya. Manis memikirkan semua perkataan Jhono sahabatnya sejak kecil, apakah bisa aku bersekolah di tempat seperti itu? Apakah mungkin ada sekolah macam itu? Saat membayangkan itu manis tertidur.
                                   
Pagi harinya Manis agak tergesa-gesa karena sudah agak kesiangan, ia tak sempat sarapan dan langsung berangkat kesekolah begitusaja.
Sesampainya di sekolah Manis agak bingung, kenapa semuanya terasa asing ia mencari-cari Jhono di tempat biasanya kok tidak ada? Belum sampai bertemu dangan Jhono bel masuk pun terdengar. Akhirnya Manis masuk kedalam kelas, di dalam kelas ia kaget dengan apa yang di jelaskan oleh gurunhya, gurunya mengatakan “ Di sekolah ini dilarang untuk menghafal dan latihan mengingat, semua yang kalian kerjakan berdasarkan pendapat kalian masing-masing melalui langkah-langkah : observasi langsung, melalui kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalran rasional, melalui pemahaman yang tiba-tiba saja datang dari dunia lain dan di luar kesadaran dan pikiran yang tersusun mendasari dan menggambarkan semua secara visual.

Betapa bahagianya Manis mendengar itu, ia tidak harus menghaplkan pendapat para ahli, karena gagasan, pendapat dan pandangan muridnya lebih dihargai dan di dengar. Karena kebijakan itu ia bisa mengguakan ilmu secara wajar, karena selama ini ilmu hanya membuat para murid tidak bahagia karena merasa hanya menjadi robot-robot yang di seragamkan pemikirannya, tidak hanya bajunya saja yang di seragamkan namun, cara berfikirnya juga di seragam kan harus sama semua pendapatnya, harus sama semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh guru, jawaban yang dihasilkan harus sama seperti pendapat para ahli.
Beberapa saat kemudian ada suara guru yang memberi pertanyaan dan harus di jawab sesuai dengan pendapat murid-muridnya “ Mengapa Ilmu yang selama ini kita pelajari yang harusnya membawa manfaat yang lebih besar pada kita tetapi pada kenyataanya hanya membawa kebahagiaan sedikit pada kita?”. Manis tersenyum lebar ia pun bersiap-siap merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sang guru, sudah banyak kata yang ia rangkai dan saat giliran ia mengemukakan pendapat ia malah terjatuh dari tempat tidurnya. Ternyara, semua yang ia alami itu tadi hanyalah bunga tidur dari impian-impiannya selama ini yang tidak akanpernah terjadi, Manis merasa jengkel dan kesal dangan kejadian yang baru saja ia alami itu karena, ternyata apa yang ia impikan tidak akan pernah jadi kenyataan di dalam kehidupannya.
                                 TAMAT