Senin, 12 Oktober 2020

Mobile Legend Game Online yang Merubah Suasana Pesantren

Mobile legend yang biasa disebut dengan ML oleh para gamers, game ini diluncurkan pada tahun 2016 yang diaplikasikan pada gadget atau smart phone para pemain game ini. ML adalah salah satu game fenomenal, karena pemainnya terdiri dari berbagai macam usia sampai-sampai emak-emak pun juga asyik memainkan game tersebut.
Pesantren adalah salah satu sarana tempat belajar mengajar di Indonesia, malah pesantren menjadi salah satu ikon pendidikan yang ada di negara Indonesia. Seiring berjalannya waktu pastinya zaman semakin modern, yang dulu mengabsahi kitab (tradisi mengartikan kitab kuning menggunakan jawa pegon) menggunakan pena yang terbuat dari bambu dan masih ditutulkan ke tinta, sekarang sudah tidak zaman lagi menggunakan pena seperti itu sekarang sudah ada hi-tech untuk mengabsahi kitab kuning yang penggunaannya lebih simpel dan praktis. Maka dari itu, pesantren-pun juga mengikuti era zaman di mana semua orang dalam bertelekomunikasi menggunakan smart phone, santri pun juga tidak luput dalam  mengunakan smart phone, namun para santri dalam menggunakannya ada yang bertujuan positif dan ada juga sebaliknya, misalnya dalam hal positif yaitu santri juga membutuhkan informasi yang ada pada dunia luar seperti berita dan lain sebagainya, namun juga ada yang  mencari pada hal-hal negatif seperti melihat konten porno atau hal yang tidak bermanfaat lainya. 

Mobile legend masuk lingkungan santri? ya, itulah yang terjadi di pesantren yang saya tempati. Memang pesantren saya membolehkan para santrinya untuk membawa HP atau gadget namun seperti yang sudah saya kemukakan diatas bahwa pengaruh gadget ini menimbulkan dampak positif dan negatif, dalam bahasa pesantren biasa disebut manfaat dan mudharat. Manfaat dan mudharat tersebut kita sendiri yang menentukan, seperti kasus game mobile legend yang memang sudah mendunia, para santri di pesantren saya pun banyak yang memainkanya mulai anak-anak sampai dewasa semua sibuk memainkan gadgetnya dan saking serunya mereka lupa apa kewajiban mereka sebagai santri, yaitu belajar dan mengaji. 

Mengapa seorang santri juga memainkan mobile legend? kejenuhan merupakan faktor utama bagi para santri mengapa memainkan mobile legend, dan apa yang menjadikan para santri ini merasa jenuh dan melampiaskan rasa jenuh mereka pada mobile legend? 
Salah satunya, yaitu kurangnya kreatifitas santri di pesantren, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan setelah kegiatan belajar mengajar. Untuk santri yang juga menjadi mahasiswa pastinya mereka jenuh akan tugas-tugas mereka dan mencari hiburan untuk merefresh otak mereka, untuk santri yang sudah bekerja mereka juga mencari hiburan untuk menenangkan hati dan pikiran setelah seharian bekerja. Pada intinya para santri mencari suasana baru yang tidak menyita banyak tenaga, waktu dan uang. Lalu daripada mereka harus mencari tempat untuk berekreasi, mobile legend menjadi solusi mereka. Namun tanpa mereka sadari bahwa game mempunyai dampak kecanduan yang akhirnya mengakibatkan mereka banyak menyita waktu, tenaga, pikiran dan uang mereka hanya untuk game. 

Ahmad Zaki yaitu salah seorang santri yang saya wawancarai terkait mobile legend. Zaki ini berusia sekitar 12 tahun dia masih duduk di kelas 2 SMP adalah salah satu penggemar mobile legend, mengapa Zaki memilih mobile legend sebagai game yang ia sukai? pertama karena karakter-karakter yang ada pada mobile legend ini berpakaian seksi dan bertubuh molek, alasan tersebut merupakan naluri seorang laki-laki apalagi Zaki ini masih dalam masa pubertas. Kedua ukuran kapasitas mobile legend tergolong ringan untuk smart phone yang kapasitas RAM-nya pas-pasan. Ketiga karena kuota yang digunakan tidak terlalu boros atau stabil. Keempat cara memainkan mobile legend tidak terlalu rumit dan ribet. Kelima permainan ini jangkauanya luas atau berstandar internasional jadi para gamers ini berasal dari berbagai belahan dunia, dari pengalaman Zaki sendiri ia pernah bermain dengan gamers Amerika Serikat, Brazil, Swiss, Malaysia, Thailand dan Singapura. Dari pengakuan Zaki sendiri, dia menyadari bahwa game telah membuat dirinya lupa waktu dan menimbulkan rasa malas, dari malas berangkat sekolah, mengaji, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. 

Zaki juga susah mengatur keuangan, uang yang seharusnya untuk makan malah digunakan untuk membeli kuota.
 Itulah dampak dari penggunaan mobile legend tanpa adanya pengontrolan diri, memainkan game boleh saja namun jangan sampai membuat kreatifitas kita terhambat apalagi membuat kerugian pada diri sendiri. Alangkah baiknya jika merasa jenuh di pesantren mintalah izin pulang ke rumah dan gunakan waktu di rumah untuk silaturahim kepada orang tua, bermain dengan teman atau bertadabbur alam seperti mendaki gunung, berenang di pantai dan menziarahi makam kakek nenek dan para wali atau ulama. Belajar untuk tidak ketergantungan oleh gadget dan gunakan sewajarnya saja dengan tanamkan pada diri kita bahwa gadget bukanlah nyawa kita, kita bisa hidup tanpa gadget dan game. 

Previous Post
Next Post

Silahkan menulis di blog ini semau anda, yang penting punya hasrat untuk menulis

2 komentar: