Minggu, 29 November 2020

Resensi: Palu Arit di Ladang Tebu


Awal mula saya mengetahui buku ini, berasal dari kawan lama di kampung, dia menjadi salah satu wisudawan dari kampus ternama di Indonesia yang berada di Kota Semarang. Katanya buku ini menjadi salah satu buku terbaik yang membahas tentang  peristiwa G30S/PKI.


Namun, sebagai pembaca yang baik tentunya saya tidak langsung mempercayainya, sebelum saya membaca buku tersebut. Baru pada tahun ini saya, mempunyai buku tersebut, saya membeli via online, ya entah bagaimana insting seorang pembeli adalah mencari harga murah dan kualitas terbaik hehehe. 

Saya juga pertama kalinya membeli buku lewat aplikasi toko online, setelah saya pesan, dua hari kemudian paket itu datang. Betapa kagetnya saya, ternyata saya membeli buku bajakan. Yaudah lah mau gimana lagi, setelah itu saya curhat atau bahasa jawanya “maido” sama kakak saya, akhirnya dia memberitahu tentang bagaimana cara membeli barang dari toko online. Lumayan lega dehh...
 
Lanjut ke Palu Arit Di ladang Tebu.... 

Pertama, saya ingat-ingat betul bagaimana cover dari buku ini milik teman saya..... Ternyata beda, mungkin apakah beda percetakan atau revisi saya belum pastikan, namun dari segi isinya saya masih ingat beberapa poin yang dijelaskan di buku milik teman saya dan buku yang saya beli. 

Saya mulai membaca dari bagian pengantar dari penulis, wah gila perasaan bersalah saya semakin memuncak ketika membaca kegigihan penullis ketika menulis buku ini, bagaimana tidak? Penulis mencari sumber-sumber dan fakta sejarah yang diibaratkan mencari jarum ditumpukan jerami dan dijaga ketat oleh anjing penjaga. Untuk penulis saya mohon maaf untuk tindakan saya heuheu... 


Dari sekian judul buku yang pernah saya baca, terkait sejarah G30S/PKI, baru buku ini yang saya rasa unsur objektivitasannya hampir sempurna. Dari sumber-sumber yang ada dibuku ini juga berasal dari sumber-sumber terpercaya, pengalaman saya membaca buku yang bertema GESTAPU dan GESTOK barulah buku ini yang jauh dari narasi-narasi tentang konspirasi. Akan tetapi pada BAB II penulis menjelaskan beberapa teori tentang siapa dalang dari peristiwa GESTAPU.
 Walaupun studi penulis tidak sampai mengeklaim tentang siapa dalang dari peristiwa GESTAPU. 


Mindset yang terbangun dari seorang sejarawan murni, bukanlah menjadi seseorang yang menghakimi, namun mereka hanya menyajikan beberapa peristiwa sejarah dengan objektif dan faktual. 
Walaupun tahap interpretasi memang menggunakan unsur subjektifitas, namun penulis harus tetap berhati-hati dalam kajian atau studi sejarah yang akan ia sampaikan, seperti kegiatan mengkritik setajam-tajamnya  sumber yang ia dapat, dari hal tersebut subjektifitas akan berkurang dengan sendirinya. 


Hal tersebutlah yang saya temukan dalam buku ini, mengapa penulis tidak mengeklaim secara langsung siapa dalang dari GESTAPU? karena kurangnya sumber tertulis yang ia temukan. Beberapa buku, entah itu milik penulis dari luar negeri atau dalam negeri, banyak yang masih tercium subjektifitasnya. Peneliti sejarah dari dalam negeri, dimana mereka secara politis masih berafiliasi terhadap PKI, penyajian mereka menjadi sangat subjektif, karena jarang sekali menjelaskan secara objektif tentang lawan politiknya. Dari pihak pemerintah-pun juga sama, apalagi sejarah-sejarah GESTAPU dan GESTOK yang ditulis pada masa pemerintahan Soeharto, ditambah sejarawan yang berafiliasi politik terhadap rezim kala itu. Semakin kental pula subjektifitas yang ada. 


Buku ini, sebenarnya mengangkat tema lokal yaitu di daerah Jombang dan Kediri, dimana imbas perpolitikan nasional kala itu yang dimulai dari 1960-1966. Sesuai judulnya, Palu Arit di Ladang Tebu, menceritakan bagaimana konfrontasi yang terjadi antara partai politik terutama, PKI, NU, PNI, Masyumi dan PSI, walupun kedua partai yang terakhir sudah dilarang oleh Soekarno, namun beberapa anggota dan kadernya masih ada yang menjabat dipemerintahan diberbagai daerah seperti contoh Kediri dan Jombang. Awal mula kofrontasi dimulai pada BAB III yaitu persaingan dikarenakan adanya persaingan pengaruh dalam pabrik gula dan ladang tebu, dimana para serikat buruh dan tani yang berafiliasi terhadap BTI dan Sarmusi serta kalangan pesantren di Kediri dan Jombang serta beberapa yang lainnya, berebut kekuasaan atas ladang tebu dan pabrik gula. Tidak hanya itu, pertikaian yang ada yaitu secara horizontal maupun vertikal menjadi hal yang mudah terjadi kala itu. Hal ini terjadi pada kisaran tahun 1962-1963 sampai meletusnya GESTAPU 1965. 


Untuk memahami isi buku ini, tentu saja belilah bukunya yang tentu harus orisinil dan jangan lupa seruput kopinya ya ndesss....
Kritik dan saran bisa Komen di blog, Instagram, FB, tweet atau WA atau langsung ketemu sembari ngopi ya ndess.... 
Selamat membaca 
@nulisondes
@syahril_muadz

Selasa, 24 November 2020

Bias Sendu



Geliat malam menyayat sendu
Terlelap ditelan bayang-bayang semu
Apakah kamu tahu? 
Aku lagi-lagi merindukanmu 

Maris lirih hati memanggilmu
Berlinang mata meminta menatapmu
Begitu agung kamu di dalam jiwaku
Apakah ini, hati yang tertirani candu? 

Sang kamu
Malam ini cukup pilu
Nyata yang tak pernah ada
Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? 

Tidak ada yang lebih hangat dari tatapan bulan kepada bintang
Kamu satu-satunya yang ku sayang 
Jangan pergi wahai pujaan
Selamatkan aku dari engapan rindu yang kini hanya sebatas angan

Sabtu, 21 November 2020

KEHUJANAN



Matamu mengendanai sudut ruangan
Tawa-tawa riang
Tak ubahnya sebuah tirai
Mengkafani sulaman luka
Yang terkorek pisau renjana

Deru hujan memekak
Menyambar rumbu sang malam
Di sela temaram lampu kota
Kala beku mu
Melumpuhkan ku

Pada genangan di tepian jalan
Lekuk senyummu membayang
Mengaburkan pandang
Saat gerimis itu
Menuju deras di sudut mataku

Serana perihnya tumbuh
Di retakan aspal tengah jalan
Ia pandangi perlahan
Dan pada saat bersamaan
Dadanya melebam dalam

Angin malam berhembus
Membelai rambut ikal 
Seorang lelaki dengan jiwa bocah
Yang belajar dewasa
Untuknya,

Untukmu.

Arsyad NA

Jumat, 20 November 2020

Heilige Liefde


Cinta bukanlah rasa yang datang secara tiba-tiba
Bukan tanpa aba-aba cinta itu ada 
Bukan juga tentang rasa suka maupun duka
Bukan pula tentang aku dan ego ini

CINTA..... 
Cinta mengalir di hati
Membasahi sanubari
Membuat tenggelam menghadap sang illahi
Bukan mengikat untuk jadi kuat
Tidak tergantung untuk takut kehilangan 
Cinta dengan ikatan emosional hanya menjadikan seorang pecinta dan yang di cintai fana
Menonjolkan kata aku hingga membuat cinta semakin habis terbakar ego dan harapan

CINTA YANG TULUS.... 
Bukan mengharap balasan 
Bukan menetapkan sebuah ikatan
Bukan juga membawa AKU sebagai sang pecinta
Melainkan

Aku lebur menjadi satu dengan apa yang ku cintai tanpa mengharap balasan tapi penuh dengan iklas dan kerinduan..... 

Kamis, 19 November 2020

Hujan Bulan November


Kepada hujan di bulan November
Semoga kau tidak hanya membilas kering kerontang tanah tetapi juga luka luka dalam penderitaan. 

Kepada hujan di bulan November semoga kau tidak hanya membuat bau tanah ada tetapi juga cinta yang tetap ada dan membara walau luka menjarah. 

Kepada hujan di bulan November
Semoga deras air hujanmu yang mengalir dapat membuat  kesedihan lenyap dan sirna. 

Kepada  hujan di bulan November
Semoga suara rintik hujan yang menetas diberbagai tempat dapat menghibur jiwa jiwa yang kesepian. 

Kepada hujan di bulan November
Semoga riuh dan gemuruh mu
Selalu membawa kebahagiaan.

Rabu, 18 November 2020

KISAH BARU



Semua hanya sementara
Apalagi cuma rasa
Mustahil untuk selamanya
Akan luntur dengan sendirinya
Mengikuti sikap dan timbal balik rasa

Teruntuk yang sudah
Teruntuk yang pernah
Teruntuk yang telah berubah

Sebab kesedihan
Hanya kebahagiaan yang tinggal menunggu waktu

Sebab yang baru
Telah menunggu
Sebab yang baru 
Telah menantiku

Jingga yang menghapus biru
Dan lembaran kisah baru


Ahmad arif k

Kamis, 12 November 2020

RINDU




Wahai malam
Kutitipkan rindu yang akupun tak ingin menyebutnya rindu. 
Jangan.. 
Jangan sampaikan
Aku hanya titip lalu buanglah nanti waktu pagi menjelang
Dan jangan bawa kembali waktu kau datang lagi, 
Biarlah.. 
Biarlah rindu itu pergi bersamamu dimalam yang ini (saja) 
Jangan untuk malam berikutnya. 
Wahai lampu jalanan. 
Iya.. Kalian 
Yang pernah menjadi saksi pertemuan
Sengaja ataupun tidak. 
Ku kembalikan padamu kenangan. 
Mereduplah waktu esok tiba
Bawa padam juga kenangan itu. 
Dan jangan lagi kau sorot balikkan padaku kenangan itu. 
Saat esok kau bersinar bersama datangnya malam. 

Salatiga, 23 maret 2020

Selasa, 10 November 2020

HADIRKAN SPIRIT LAFRAN PANE DI ERA MILLENIAL




Mungkin nama Lafran Pane asing di telinga masyarakat, namun dekat bagi para penganggumnya. Masih lekat dibenak kita, peringatan hari pahlawan dua tahun lalu, menjadi hadiah istimewa bagi pecinta sosok Lafran Pane. Karena pada waktu itu, Joko Widodo dalam Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/tahun 2017 menganugrahi Lafran Pane sebagai pahlawan nasional. 

Lafran Pane merupakan sosok pergerakan pemuda yang memprakarsai terbentuknya organisasi mahasiswa tertua di Indonesia,yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947 di Yogjakarta. Latar belakang Lafran Pane mendirikan HMI adalah melihat keadaan negara pada masa itu yang dirasa kurang kondusif. Dengan semangat juang untuk memepertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia serta mengangkat derajat rakyat Indonesia, maka lafran pane menghimpun semangat muda untuk sama-sama mempertahankan bangsa ini. 

Perjuangan Lafran Pane mendirikan HMI untuk menghimpun mahasiswa dalam bidang akademis. Namun juga bertanggung jawab atas nasib rakyat Indonesia. Spirit ke Islaman dan ke Indonesiaan yang ia gaungan sampai saat ini bisa ditangkap oleh generasi penerusnya. Kalau dilihat secara konstitusi HmI sudah berusaha mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang di ejawantahkan dalam tujuan HMI ,Bab III Tujuan,Usaha dan Sifat pasal 4 anggaran dasar organisasi "Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata'ala.”

Tujuan diatas seharusnya bisa menyulut generasi milenial untuk setidaknya mencontoh spirit pahlawan kita Lafran Pane. Mahasiswa Indonesia harus bisa melakukan aklimitasi terhadap perubahan zaman, perlu keluar dari zona yang mengekang, memebelenggu kita dalam kejumudan. Kita perlu merdeka dalam hal pengentahuan,hingga kitalah yang berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Dulu Lafran Pane menyebarkan ke Islaman kepada mahasiswa dengan menunggu mahasiswa-mahasiswa yang keluar dari dalam masjid. Kemudian, melakukan diskusi-diskusi perihal Islam dan Indonesia. Kalo mahasiswa sekarang, diskusi yang diangkringan lah ehhehe.. Tapi tak apa, semua orang berhak menyebarkan kebaikan dengan caranya masing-masing. 

Sekilas tentang Lafran Pane sebagaimana yang saya temukan diberbagai jenjang forum dan juga training non-formal. Beliau merupakan sosok yang sederhana dan tawadhu. Jadi jika hari ini banyak yang mengaku pengaggum Lafran Pane namun masih sibuk bikin diri, mungkin itu bukan ciri pemuda LaPe. Perlu digaris bawahi kemajuan suatu bangsa ada ditangan pemuda. Kitalah yang bertanggung jawab atas masyarakat yang adil, makmur juga di Ridhoi oleh Allah SWT. 
Dengan spirit Lafran Pane, mari kita tolak segala penindasan intelektual dan bekali diri dengan berbagai pengalaman. Karena kitalah penggerak roda kebajikan. 

Yakinkan dengan Iman , Usahakan dengan Ilmu dan sampaikanlah dengan Amal. 

@kusyaaa__

PAHLAWAN


Selamat hari pahlawan
Untuk yang tak mampu melepaskan
Namun tetap di sia-siakan

Selamat hari pahlawan
Untuk yang masih tertekan
Namun tak ada kepastian

Selamat hari pahlawan
Untuk yang masih bertahan
Namun selama ini bukan kau 
yang diceritakan sebagai kesayangan

Selamat hari pahlawan 
Bagi kalian yang terpisah namun masih sayang-sayangan

Selamat hari pahlawan
Untuk pendaki pelaminan 
Namun tersandung bebatuan 
Yang diluncurkan kawan

Selamat hari pahlawan 
Untuk pejuang mantu idaman
Namun mertua masih mutungan

Selamat hari pahlawan
Bagi kalian yang berikrar menanti masa untuk disemayamkan



KAMU PAHLAWAN !


Ahmad Arif kurniawan
& Suahril Mu'adz

Senin, 09 November 2020

Adakah Sekularisme dalam Islam?

 









Ketika hendak tidur, tiba-tiba aku melihat tumpukan buku diruang kamar ku, yang kubeli saat PPL di Jogja, judulnya "Dialog Timur & Barat" Aku membelinya karena, terdapat nama Muhammad 'Abid Jabiri dan Hasan Hanafi... 
Kulihat daftar isinya, yups.. Aku tertuju dengan bab Sekularisme dan Islam.. 

Hasan Hanafi memberikan judulnya dengan Islam Tidak Membutuhkan Sekularisme Ala Barat. 
Katanya: Secara esensial, Islam adalah agama sekuler. Maka oleh karena itu islam tidak membutuhkan sekularisme model lain yang berasal dari peradaban Barat. Namun, yang membedakan dengan orang lain adalah sistem kependetaan, otoritas religius, berbagai pandangan, emosi, iklim, hukum kriminal dan sistem sangsi. 

Namun, pernyataan Hasan, sedikit di sanggah oleh, M. 'Abid Jabiri yang diberi judul, Islam Bukan Gereja yang Dipisahkan Dari Negara. 
Katanya : Sesungguhnya, bentuk negara dalam islam bukanlah persoalan yang diatur dalam islam sendiri. Ia termasuk dalam persoalan yang ditinggalkan pada wilayah ijtihad umat islam untuk dirumuskan berdasarkan atas asas manfaat dan kemaslahatan menurut parameter setiap zamannya. Dengan demikian pernyataan "Islam adalah Agama Sekuler" Dalam pandangan saya tidaklah berbeda sama sekali dengan pernyataan "Islam adalah agama yang tidak Sekuler".
Sekularisme dalam dalam makna pemisahan agama dari negara bukanlah hal yang subtantif dalam islam, karena didalam sekularisme terdapat unsur gereja yang harus dipisahkan dengan negara. Adapun apabila maksudnya adalah pemisahan umara' dan ulama, antara agama dan politik serta larangan bagi tentara untuk terlibat dalam partai politik, maka itulah yang terjadi secara realistis sejak era Mu'awwiyah. Seperti yang telah kita ketahui, fakta itulah yang membentuk sebagian besar pengalaman sejarah umat islam. 

Setelah membaca tulisan beliau berdua, saya sedikit menarik garis tengah antara pendapat mereka. Yaitu, secara garis besar dari segi budaya, sejarah dan dogma agama yang melatarbelakangi adanya sekularisme di peradaban Barat modern, sudah sangat jelas berbeda. 
Pemisahan antara gereja dan negara yang terjadi di Barat, dilatarbelakangi oleh dominasi gereja yang seakan-akan mengekang peradaban mereka, namun disaat adanya revolusi diberbagai negara Barat, gereja lah yang sebaliknya menjadi alat negara. 

Didalam sejarah umat islam sendiri, Rosulullah SAW menjadi seorang pemimpin agama sekaligus seorang pemimpin negara, namun di saat masa Muawiyah, ia merasa tidak mampu mengikuti gaya kepemimpinan Khulafaur rasyidin, dan ia menyampaikannya di hadapan para sahabat dan tabi'in di Madinah, yang menjadikan tahun ini menjadi tahun persatuan, walaupun akhirnya ada juga yang membelot seperti khawarij. 

Secara dogmatis, antara ajaran Islam dan Kristen juga menjadi landasan yang tentu berbeda, sistem yang diterapkan Kristen yaitu adanya sistem gereja. Didalam Islam tidak ada sistem Masjid misalnya, maka dari itu didalam tulisan 'Abid Jabiri bahwa islam bukanlah gereja yang dipisahkan oleh negara. Selain itu Hukum-hukum agama yang jelas berbeda antara islam dan kristen. 
Saya tidak terlalu berani untuk membahas akidah kedua agama ini dengan mendalam karena keterbatasan pemahaman saya. Namun secara historis menjadi sebagian landasan kuat bahwa Islam adalah agama untuk Dunia dan manusia kata Hasan Hanafi. 

Dari dua tokoh Islam kontemporer tersebut, Hasan Hanafi dalam tulisannya lebih menitikberatkan aspek akidah atau ajaran masing-masing agama Islam dan Kristen yang melatarbelakangi adanya sekularisme di Barat. 
 M. 'Abid Jabiri, lebih menitikberatkan aspek historis yang telah dialami oleh umat islam dan menjadikannya aspek pembanding dengan adanya sekularisme di Barat. 

Kesimpulan... 
Islam agama yang fleksibel dengan adanya Maqashidu Syariah. Dengan menimbang asas manfaat dan kemaslahatan. 
Maka sekularisme dalam islam bersifat kondisional, karena didalam Islam tidak dijelaskan secara gamblang bagaimana sistem atau format kenegaraan yang sesuai dengan islam. Namun hal tersebut tergantung pada ijtihad umat islam, seperti sabda Rosulullah SAW "kalian lebih tau segala urusan dunia kalian".

Mohon maaf atas tulisan ini, jika masih absurd dan sulit dipahami... 

Sumber bacaan ; Dialog Timur & Barat : menuju rekonstruksi Metodologis Pemikiran Arab yang progresif dan Egaliter


Minggu, 08 November 2020

SINGGAH


Bingung harus kumulai darimana
Ketika kepergian hanya menyisakan luka
Dan datangmu hanya tuk sementara
Telah ku letakkan sekelumit harapan tuk bisa selalu bersamamu 
Tapi, semesta berkata lain
Kepergianmu sangat menyisakan luka yg mendalam bagiku
Setiap kisah yg kita buat seakan sia sia
Semudah itukah engkau pergi meninggalkanku? 

Kita pernah sedekat nadi namun sekarang tak tau lagi
Kita pernah menjalin hubungan yg kental namun Sekarang seakan tak saling kenal
Kita pernah saling menali harapan namun Sekarang tak tau lagi siapa yang bertahan 

Kuucapkan berjuta kasih atas semua kisah
Besar harapku, tuk kita kembali saling mengenal.


salatiga, 2 oktober 2020

Jumat, 06 November 2020

Dengkur Merpati


Pagi buta yang kian mengembun
Menjadi saksi serapah cinta dan kasihku
Begitu dingin tuhan sajikan alam
Atau memang darahku yang tak lagi mengalir
Siang terik yang kian membiru
Meneteskan peluh sucinya mimpi

Dengkur merpati singgah memelas
Tawarkan sajak sendu kepadaku
Jingganya sore kian meredup
Tak kunjung enyah amukan hayal

Hahaha lihatlah
Pangeran nestapa kian membungkuk
Menahan sakitnya belenggu rindu
Duduk
Duduk
Luruskan kakimu
Sejenak malan datang
Angkat dan tengadahkan kedua tanganmu

@hipolito_pasih

INTROSPEKSI


Makin hari makin menjadi
Persetan berhati nurani
Menari-nari sesuka hati
Menggerogoti sampai mati

Tak pernah tau diri
Hidup seenaknya sendiri
Seakan akan yang lain tak berarti

Mengapa kau ini?

Pernahkah kau sadari,
Bahwa kamu tak sendiri
Tanamkan dalam hati
Agar kau bisa mengerti
Bahwa yang lain itu berarti

Sudahkah kau introspeksi hari ini?

Ahmad arif kurniawan

Kamis, 05 November 2020

SEBELUM PULANG


Hati-hatilah
Saat kau berjalan
Menuju makam itu
Bukankah kau tak ingin
Membangunkan mereka?

Kau juga tak membawakan oleh-oleh
Hanya ada beberapa keping
Harapan-harapan di masa depan
Yang kau simpan rapi
Di saku batinmu

Mungkin juga
Kau tak menyadari
Ada beberapa nisan yang tertancap miring
Dan tak sejajar
Saat kau melompat-lompat diatasnya

Hujan turun
Pada pangkuan Pertiwi
Kecipaknya mengingatkan
Betapa kering dan gersang
Jiwamu

Sebelum kembali bersua
Di luasnya ladang Tuhan
Ku pinta kau
Teruslah panjatkan doa
Tetaplah rapalkan mantra

Arsyad NA